Plt Bupati Bersama Isteri Sholat Idul Adha di Masjid Nurul Hidayah

Sumber : Media Center Tanggal : 2018-08-23

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tanah Bumbu Sudian Noor bersama isteri melaksanakan Sholat Idul Adha di Mesjid Nurul Hidayah Kecamatan Simpang Empat, Rabu (22/8).

Selain Plt Bupati dan Keluarga, tampak pula sejumlah pejabat diantaranya Plh Sekda Tanah Bumbu Mustaing dan sejumlah Pejabat di Lingkungan Pemkab Tanbu yang berbaur dengan warga masyarakat.

Sholat Idul Adha dimulai pukul 07.25 WITA. Adapun yang menjadi Imam Sholat yaitu Guru Haji Salim. Sedangkan Khutbah yaitu Ustad Haji Mardani.

Ustad Haji Mardani dalam khutbahnya menyampaikan dari sekian banyak hal yang harus diteladani dari Nabi Ibrahim beserta keluarga dan dari pelaksanaan ibadah haji, setidaknya ada empat pelajaran yang sangat penting diambil hikmahnya.

Pertama, yaitu kesinambungan generasi yang shalih. Belajar dari profil kehidupan Nabi Ibrahim as membuat kita harus memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kesinambungan generasi shalih yang memperjuangkan tegaknya nilai-nilai kebenaran.

Menurutnya, kondisi generasi muda sekarang boleh dibilang cukup memprihatinkan. Kasus perzinahan, pemerkosaan, pembunuhan, perkelahian, pencurian, narkoba, Aids, dan berbagai kasus kriminal lainnya banyak dilakukan oleh generasi muda.
IMG-20180822-WA0010
Oleh karena itu, satu hal yang harus diingat bahwa anak merupakan anugerah sekaligus amanah. Sebagai orang tua, kita harus ingat bahwa anak itu bukan buatan kita, kita hanyalah sebab bagi lahirnya sang anak.

Maka setiap orang tua harus mensyukuri kehadiran sang anak, apapun jenis kelaminnya dan bagaimanapun keadaan anak itu.

Hal lain yang harus mendapat perhatian dalam kaitan dengan anak sebagai generasi pelanjut adalah bahwa anak merupakan amanah dari Allah SWT yang tidak boleh disia-siakan.

Anak selanjutnya harus di didik dengan sebaik-baiknya sebagaimana Nabi Ibrahim dan Hajar telah mendidik anaknya Ismail dengan sedemikian baik.

“Hajar memberikan perhatian kepada anaknya Ismail dengan begitu baik sehingga ia harus berlari bolak balik dari Shafa ke Marwa untuk mencari air minum. Inilah yang kemudian disebut dengan Sa’i dari Shifa ke Marwa. Disampingnya itu, Allah juga mengabdikan perhatian dari orang tua yang begitu besar kepada anaknya dengan apa yang disebut dengan Hijr Ismail yang berarti pengakuan Ismail, suatu tempat yang begitu mulia Yanng disitulah dahulu Ismail dipangku, diasuh, dididik dan dibesarkan oleh Ibunya yaitu Hajar,” sebutnya.

Ia melanjutkan, untuk bisa melahirkan generasi yang shalih, yang harus shalih terlebih dahulu adalah kita sebagai orang tuanya.

“Bagaimana bisa orang tua mendambakan anaknya menjadi shalih bila ia sendiri tidak shalih ?” Ucapnya.

Menurutnya, mendidik anak harus dimulai dengan keteladanan yang baik, karenanya bagaimana mungkin orang tua bisa mendidik anak-anaknya dengan baik kalau ia tidak menjadi contoh yang baik.

“Tak cukup hanya bisa memberi contoh yang baik. Tapi harus menjadi contoh yang baik pula,” sebutnya.

Selanjutbyaa, pelajaran kedua yang dapat diambil dari kisah Nabi Ibrahim yaitu menjauhi segala bentuk keburukan dan melakukan segala bentuk kebaikan.

“Hikmah yang harus kita ambil dari profil nabi Ibrahim dan keluarganya serta dari ibadah haji yang harus ditunaikan oleh kaum muslimin adalah menjauhi segala bentuk keburukan dan melakukan segala bentuk kebaikan,” sebutnya.
IMG-20180822-WA0009

Sebaik-baiknya bekal adalah takwa. Takwa yang menjadi bekal untuk menjalani kehidupan ini merupakan sesuatu yang sangat penting, karena takwa harus selalu melekat dalam jiwa setiap muslim. Itu sebabnya takwa disebut dengan istilah libasut takwa atau pakaian takwa, karena takwa merupakan pakaian rohani manusia.

“Pakaian yang paling baik adalah takwa. Betapa hina manusia yang tidak bertakwa dalam hidupnya di dunia ini meskipun pakaian jasmani yang dimiliki dan dikenakan sangat bagus dengan harga yang sangat mahal sekalipun,” katanya.

Dalam kondisi masyarakat dan bangsa yang sulit, seharusnya ketakwaan yang diperkokoh, karena dengan ketakwaan akan ada jalan keluar dari setiap persoalan, termasuk persoalan ekonomi, sedangkan bila banyak urusan yang sulit dilaksanakan, maka Allah SWT akan memudahkannya.

Pelajaran ketiga yang dapat diambil dari kisah Nabi Ibrahim yaitu selalu Istiqamah.

Nabi Ibrahim dan keluarga memberikan pelajaran kepada kita semua akan keharusan mempertahankan dan memperkokoh jati diri sebagai seorang mukmin yang selalu berusaha untuk berada pada jalan hidup yang benar, apapun tantangan, keadaan, dan bagaimana pun situasi dan kondisinya.

Saat nabi Ibrahim diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya Ismail, saat itu Ibrahim sudah sangat tua, sedangkan Ismail adalah anak yang sangat didambakan sejak lama. Maka Ibrahim pun melaksanakan perintah Allah SWT.

Ini menunjukan bahwa Nabi Ibrahim memiliki idealisme dari muda sampai tua dan inilah yang amat dibutuhkan dalam kehidupan dinegeri kita. Jangan sampai ada generasi yang pada mudanya menentang kezaliman, tapi ketika ia berkuasa pada usia yang lebih tua justru ia sendiri yang melakukan kezaliman yang dahulu ditentangnya itu.

Jangan sampai ada generasi yang semasa muda menentang korupsi tapi saat ia berkuasa diusia yang sudah tua justru ia sendiri yang melakukan korupsi yang dahulu sangat ditentangnya.

Dalam kehidupan sekarang kita dapati banyak orang yang tidak mampu mempertahankan idealisme atau dengan kata lain tidak istiqamah sehingga apa yang dahulu diucapkan tidak tercermin dalam langkah dan kebijakan hidup yang ditempuhnya.

Selanjutnya, pelajaran keempat yang dapat diambil hikmahnya dari Nabi Ibrahim dan keluarga yaitu waspada terhadap godaan-godaan syaitan.

Ketika manusia ingin menjadi muslim sejati, kendala besar yang dihadapinya adalah godaan-godaan syaitan.

Oleh karena itu, kewaspadaan dan perlawanan kita terhadap godaan syaitan harus selalu membara. Ibrahim, Hajar, dan Ismail berusaha mengusir syaitan melempari dengan batu yang kemudian dilambangkan dalam ibadah haji dengan melontar jumroh.

Untuk itulah didalam Islam kita sangat ditekankan untuk selalu berlindung kepada Allah SWT dari godaan-godaan syaitan. Sehingga untuk membaca Al-Qur’an yang sudah jelas-jelas baik, kita tetap harus berlindung kepada Allah SWT dari gangguan syaitan dengan membaca Ta’awudz.

Namun yang amat disayangkan adalah banyak diantara kita yang untuk membaca Alquran berlindung kepada Allah SWT dari gangguan syaitan, tapi untuk berdagang tidak, untuk kekantor tidak, untuk keparlemen tidak, untuk berumah tangga tidak, dan begitulah seterusnya. Akhirnya banyak diantara kita mengikuti godaan syaitan dipasar, di kantor, di gedung DPR, di jalan, di hotel, dan ditempat-tempat lainnya.