Pasutri Penghuni Gerobak Dijemput Sat Pol PP

Sumber : Media Center Tanggal : 2018-10-16

Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Tanah Bumbu mengamankan pasangan suami istri (pasutri) penghuni gerobak yang biasa mangkal di wilayah Pusat Niaga Besujud, Minggu (14/10) malam.

Pasutri tersebut diketahui benama Taperi usia 77 tahun dan istrinya Inur yang diperkirakan berusia 45 tahun. Dari kartu identitas yang mereka miliki, diketahui keduanya merupakan warga Desa Telaga Sari RT. 02 Kecamatan Amuntai Selatan Kabupaten HSU.

Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Tanah Bumbu melalui Kepala Bidang Trantibum dan Linmas, Aulia Hadi, S.STP saat ditemui di meja kerjanya, Senin (15/10) membenarkan adanya pengamanan pasutri tersebut.

Menurutnya, tidakan pengaman dilakukan setelah mendapatkan laporan dari masyarakat dan informasi yang berkembang di media sosial mengenai adanya pasutri penghuni gerobak yang biasa mangkal di seputaran Pusat Niaga Bersujud (Pasar Minggu) Kecamatan Batulicin.

“Iya, kami telah mengamankan sepasang suami istri yang hidup dalam gerobak. Pasngan tersebut diperkirakan sudah sepekan berada di Tanah Bumbu,” ujarnya.

Dikatakannya, dari data yang ada, pasangan suami istri tersebut sudah pernah terjaring razia Dinas Sapol PP saat mengemis beberapa bulan yang lalu. Dan kali ini mereka kembali lagi ke Tanah Bumbu untuk melakukan kegiatan serupa.

“Ini kali kedua mereka kami amankan, dimana sebelumnya mereka sudah pernah terjaring razia saat menemis dilokasi yang sama,” paparnya.

Masih menurut Aulia Hadi, untuk menghidari kejadian serupa terulang, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten HSU, dari koordinasi itu dihasilkan kesepakatan untuk menyerahkan pasutri tersebut pada Panti Sosial Budi Sejahtera yang ada di Banjarbaru untuk direhabilitasi.

“Sebagai tindak lanjutnya hari ini (Senin,15/10) kami akan mengantar pasangan tersebut ke Panti Sosial Budi Sejahtera Banjarbaru untuk direhabilitasi,” pungkasnya.

Diketahui, keberadaan pasutri ini menjadi perhatian warga sekitar, dimana mereka hidup dan melakukan aktifitas sehari-harinya hanya disebuah gerobak. Untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum mereka hanya mengharapkan belas kasihan dari warga yang bersimpati.